Kegiatan

Bijaksana Menolak Pinangan

Ada ikhwan yang mengkhitbah saya, ia kakak kelas saya dulu, dan katanya ia menyukai saya sejak dulu, tapi karena ingin menjaga agar tidak sampai terjebak dalam pacaran, maka baru saat ini ia mengungkapkan perasaanya dan langsung mengajak menikah.

Saya sendiri kaget, karena selama itukah perasaan bisa dipendam? Padahal di masa depan, belum tentu niatnya itu terlaksana sesuai keinginan, karena kehendak Allah bisa saja berbeda.

Jujur, saya belum siap untuk menikah, saya masih kuliah dan masih sibuk dengan aktivitas yang lain. tapi, menurutnya jika kuliah yang menjadi penghalang, ia mau menunggu.

Saat ini, saya belum menyukainya, meskipun mungkin perasaan akan datang sejalan dengan waktu. Saya sendiri menyukai orang lain, walau saya juga tidak tahu, saya berjodoh atau tidak. jadi sebenarnya, Saya dan ikhwan itu sebenarnya sama-sama menunggu. Menunggu orang yang disukai masing-masing.

Pertanyaannya, bagaimana menolak dengan bijak, agar tidak menyinggung perasaannya? Terlebih karena ini pengalaman pertama saya untuk menolak sebuah lamaran.

Dan bolehkan saya mengharapkan seorang ikhwan untuk berjodoh, seperti ikhwan yang mengkhitbah saya itu mengharapkan saya untuk berjodoh dengannya?

Terima kasih,

Mira

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh

Adik Mira yang disayang Allah,

Saya memahami apa yang Anda rasakan. Di antara fitrah yang diciptakan Allah adalah perasaan kecenderungan antara laki-laki kepada wanita dan sebaliknya. Hal ini dimaksudkan untuk mewujudkan rasa ketenangan dan ketentraman antara laki-laki dan perempuan.

Uniknya perasaan jatuh cinta itu dikaruniakan secara khas kepada masing-masing individu, tanpa bisa dipaksakan; dan standar jatuh cinta pun tak bisa disamakan antara satu dengan yang lainnya. Sehingga wajar saja bila si A jatuh cintanya ke si B, bukan ke si C padahal menurut kacamata umum C lebih cantik, lebih menarik, lebih populer daripada si B.

Rasulullah SAW sendiri pun memahami adanya fenomena perasaan jatuh cinta ini. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda yang kurang lebih artinya:

‘Tidak terlihat di antara dua orang yang saling mencintai (sesuatu yang sangat menyenangkan) seperti perkawinan.”(HR.Ibnu Majah)

Jadi tidak ada yang bisa melarang perasaan jatuh cinta. Yang menjadi masalah kemudian adalah follow up jatuh cinta tersebut; karena jatuh cinta juga sebagai pilihan dalam hidup, yang bisa mengantarkan pada jalan taqwa atau jalan malapetaka. Nah jadi bagi orang yang jatuh cinta… apakah dia tetap akan melangkah di bingkai yang syar’i menuju tata cara pernikahan Islami bila ia merasa telah mampu, atau dia menabrak rambu-rambu syar’iy untuk menunjukkan rasa jatuh cintanya sampai-sampai dia harus mengalah kepada bujukan hawa nafsunya…? Tentu cara yang terakhir ini sangat tidak dianjurkan.

Tentang masalah dik Mira, apa yang harus dilakukan?

Pertama-tama shalat istikharah tentu lebih afdhal dilakukan, agar pilihan kita adalah pilihan yang ”bersih” sesuai dengan kebeningan nurani dan dijagai olehNya.

Istikhoroh menuntut kita untuk mendekatkan diri kita kepada Allah, terbebas dari keinginan hawa nafsu dan netral dengan urusan-urusan duniawi.

Apa pun hasil dari istikhoroh, kemantapan hati untuk menerima atau justru ketegasan untuk menolak kita jadikan sebagai pilihan terbaik yang ditunjukkan oleh-Nya. Syariat telah memberikan rambu-rambu bahwa menerima atau menolak semata-mata karena urusan dien dan akhlak, bukan kepada kemapanan materi, pekerjaan atau yang lainnya.

Menurut hemat Ibu, tak perlu menunggu mimpi atau datangnya ilham. Begitu sholat istikhoroh, ikuti jalan nurani yang telah dibimbing-Nya dan segeralah ambil keputusan.

Adik Tika yang disayang Allah,

Tentu saja dibutuhkan kesopanan kata-kata ketika keputusan kita adalah menolaknya. Menolak dengan cara seahsan (sebaik) mungkin, dengan alasan yang logis dan tak ada keinginan untuk memutus silaturahim, misalnya saja melengos ketika bertemu dengannya, tak menjawab ucapan salamnya atau berkata ketus bila disapanya. Semoga saja cara ini tak membuatnya ’luka’ karena penolakan itu.

Bagaimana tentang perasaan dik Mira kepada ikhwan yang disukai…?

Ingatlah kepada Fatimah binti Rasulullah saw yang berdialog kepada Ali bin Abi Tholib setelah mereka menikah. Fatimah berkata:

”Wahai Ali, sebenarnya ada seorang pemuda di Madinah yang aku dambakan untuk menikah dengan diriku….”

”jadi, engkau menyesal menikah denganku?”, jawab sang suami.

Dengan tersenyum Fatimah menjawab, ”Pemuda itu adalah engkau.”

Subhanallah, jadi diam-diam sebelum Ali melamarnya, sebenarnya fatimah juga mengharap Ali, namun hal ini tak menjadikan Fatimah atraktif untuk menarik perhatian Ali atau hal-hal yang justru merendahkan dirinya. Cinta Fatimah yang dirangkai dalam diam diiringi dengan munajat panjang kepadaNya, adalah doa yang kemudian diijabah langsung oleh Sang pemilik Cinta.

Maka, berdoa, adalah senjata yang utama yang mesti ada dalam setiap nafas seorang mukmin.

Cara lain adalah mengutarakan keinginan secara lugas dan sopan. Pernah pula suatu ketika Rasulullah saw ’dilamar’ oleh seorang wanita. Meski akhirnya Rasulullah menikahkan wanita tersebut kepada sahabatnya yang lain, tapi Rasulullah tak pernah mencela kejadian itu. Jadi sesungguhnya, dibolehkan seorang wanita mengajukan dirinya kepada laki-laki untuk dinikahi.

Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar, ”… dan bahwa wanita yang menginginkan kawin dengan laki laki yang lebih tinggi kedudukannya daripada dirinya, tak tercela sama sekali. Lebih-lebih jika terdapat tujuan yang benar dan maksud yang baik, mungkin kelebihan agama laki-laki yang dipinangnya, atau karena ia cinta kepadanya yang kalau didiamkan maka dikhawatirkan akan jatuh kepada hal-hal yang terlarang.”

Adik Mira…. tetap dekatkan diri kepada Allah, karena disetiap iman yang kita naiki, sesungguhnya Allah menyimpan mutiara tak ternilai untuk kita. Pun dengan jodoh kita, semoga makin baik keimanan kita, jodoh yang disimpan Allah untuk kita adalah jodoh terbaik. Amiin….

Wallahu a’lam bissshawab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh

 



Nusantara Peduli

  • Jl. Perintis Kemerdekaan, Gg. Mangga 670, Umbulharjo, Yogyakarta
  • 082289713000
  • nusantarapedulipusat@gmail.com

Lokasi Kami