Ketika Pasangan Membawa Pengaruh Buruk

Dalam berbagai kesempatan seminar dan tulisan, saga sering menyampaikan pentingnya suami dan istri untuk saling menerima pengaruh pasangan. Karena hal itu adalah kunci persenyawaan atau kesejiwaan yang akan membuat interaksi suami dan istri bisa menyenangkan dan membahagiakan.

Pada dasarnya, pasangan suami istri harus terbuka untuk menerima pengaruh pasangan demi membentuk kesejiwaan dan persenyawaan. Akan tetapi, jangan sampai hal itu memberikan pengaruh buruk pada diri Anda, hingga sampai ke tingkat pelanggaran dan penyimpangan. Anda tetap harus memiliki standar nilai kebenaran dan kebaikan untuk mengukur pengaruh pasangan, agar tidak membuat Anda melenceng dari kebenaran dan kebaikan Jika pengaruh itu sampai ke tingkat perbuatan melanggar dan dosa, maka artinya ada yang salah dengan keluarga. Harus segera dicarikan solusi agar tidak semakin jauh menyimpang.

Kapan Pengaruh Pasangan Harus Dihindari?

Tidak semua pengaruh pasangan harus kita terima. Ada pengaruh yang justru harus kita tolak, karena berdampak buruk. Di antara indikasi pengaruh buruk pasangan yang harus ditolak adalah hal-hal sebagai berikut:

Pertama, Mematikan Semangat Kebaikan

Dulu seseorang rajin ibadah dan rajin berbuat banyak kebaikan untuk masyarakat luas. Setelah menikah, ternyata pasangannya malas beribadah dan hidup sangat individualis. Ketika pengaruh pasangan menjadikannya berhenti menjadi orang baik, ini adalah sebuah kesalahan Pengaruh seperti ini tidak layak untuk diterima, karena ia tidak boleh berhenti menjadi orang baik. Semestinya ia yang memengaruhi pasangannya untuk menjadi orang yang rajin ibadah dan banyak melakukan kebaikan bagi lingkungan.

Jangan sampai Anda berhenti beribadah, tidak mau salat, tidak lagi berpuasa Ramadan, karena pengaruh pasangan. Tiba-tiba Anda menjadi orang yang pensiun dari semua kebaikan dan ketaatan. Pengaruh seperti ini sangat buruk dan membuat Anda berada dalam masalah yang besar jika tidak segera memperbaiki diri.

Tetaplah berbuat baik walaupun pasangan Anda belum mau melakukannya. Tetaplah melaksanakan ketaatan walaupun pasangan Anda tidak mau melaksanakannya.

Kedua, Mengisolasi dari Komunitas Orang-Orang Saleh

Dulu seseorang rajin mendatangi majelis ilmu, serta berinteraksi dengan orang-orang saleh. Dengan itu ia selalu berada dalam lingkungan kebaikan. Setelah menikah, ternyata pasangannya sangat jauh dari komunitas orang-orang saleh. Justru dia banyak berteman dengan orang-orang yang membawa pengaruh buruk dalam kehidupan pribadi dan keluarga.

Jangan sampai pasangan Anda membuat Anda terisolasi dari komunitas orang-orang saleh yang akan menguatkan Anda dalam kebaikan. Justru Anda hams bisa memengaruhi pasangan agar bisa berkomunitas bersama orang-orang saleh.

Kalaupun pasangan Anda belum mau berkomunitas dengan orang-orang saleh, jangan Anda berhenti berkomunitas dengan mereka. Karena semua orang akan sangat terpengaruh oleh komunitas yang membersamai dan dibersamainya Jangan menjauhkan diri dari komunitas orang-orang saleh hanya karena pasangan Anda belum mau terlibat di dalamnya

Ketiga, Bertambahnya Kebiasaan Buruk

Dulu seseorang—lelaki atau perempuan—hidupnya lurus-lurus saja dan berusaha menjaga diri dalam kebaikan. Setelah menikah ternyata pasangan membawa pengaruh buruk, sehingga bertambahlah kebiasaan buruknya dari waktu ke waktu. Kondisi ini tidak boleh dibiarkan terjadi. Dulunya ia rajin bangun pagi-pagi sebelum subuh, sekarang bermalas-malasan sehingga bangun kesiangan sampai kehilangan subuh. Dulunya ia rajin mandi, sekarang menjadi jarang membersihkan badan. Dulunya ia selalu wangi, justru sekarang tidak pernah peduli. Hal seperti ini harus segera disadari agar tidak semakin banyak kebiasaan buruk terjadi dalam kehidupannya.

Jangan Anda menghentikan berbagai kebiasaan baik, hanya karena pasangan Anda belum mau melakukan kebaikan. Jangan Anda menambah daftar kebiasaan buruk, walaupun pasangan Anda memiliki banyak kebiasaan buruk. Tugas Anda adalah mengusahakan memperbaiki kondisi pasangan secara bertahap. Bukan mengikuti keburukannya

Keempat, Bergesernya Standar Nilai Hingga ke Titik Dosa

Dulu seseorang sangat sensitif dengan hal-hal yang mengarah kepada dosa dan kemaksiatan. Setelah menikah, ternyata pasangan terbiasa melakukan dosa dan kemaksiatan. Dampaknya, standar nilainya luntur, hingga menganggap biasa perbuatan salah dan dosa. Dulu ia membenci rokok, sekarang justru merokok bersama pasangan. Dulu ia membenci minuman keras, sekarang ikut menenggak minuman keras bersama pasangan. Ini adalah penyimpangan yang harus dihentikan. Justru ia yang harus memengaruhi pasangan agar bisa berhenti melakukan dosa dan kemaksiatan.

Janganlah Anda kehilangan standar nilai, karena itu yang akan menjadi warna hidup Anda. Jika standar bergeser hingga ke titik dosa, ini akan merusak banyak sendi kehidupan. Tetaplah konsisten dalam kebenaran dan kebaikan walaupun pasangan Anda belum bisa bersikap yang sama. Jangan mengikuti standar nilai yang salah, kendati pasangan Anda memiliki hal itu. Tugas Anda adalah mengupayakan agar pasangan Anda memegangi standar nilai kebenaran dan kebaikan.

Demikianlah beberapa contoh pengaruh buruk yang hams dihindari, karena sudah melibatkan wilayah dosa dan kemaksiatan. Jika pengaruh itu tidak sampai membawa dosa dan pelanggaran, maka hendaknya suami dan istri saling terbuka untuk menerima pengaruh pasangan. Apalagi jika pengaruh itu membawa kepada ketaatan dan ketakwaan, tentu harus diikuti.

CAHYADI TAKARIAWAN
Trainer & Konselor di Jogja Family Center

*Sumber artikel:
Majalah Hadila Edisi 165 Maret 2021

Download GRATIS melalui link http://bit.ly/hadilamaret

Bantu Ringankan Biaya Operasi Santri Ponpes Tahfidzul Qur'an

Bantu Ringankan Biaya Operasi Santri Ponpes Tahfidzul Qur'an

Mari ulurkan tangan bantu ringankan biaya pengobatan Shofa. Berapapun donasinya, akan sangat bermanfaat untuk mereka

Detail Campaign
COPYRIGHT © 2021 Nusantara Peduli