Kegagalan Meraih Keutamaan Ramadhan

Berikut ini adalah indikator kegagalan meriah keutamaan ramadhan yang harus kita waspadai

17 Indikator Kegagalan Meraih Keutamaan Remadhan

  • Kurang Optimal atau tidak mempersiapkan dirl jauh hari sebelum Ramadhan Persiapan diri tersebut meliputi, pertama, persiapan hati (a-ist'idad al-ruhiy) dengan kerinduan dan kegembiraan menyambut ramadhan, serta permohonan doa agar Alah menyampaikan umur hingga bulan Ramadhan. Kedua, persiapan keilmuan (al-isti'dad al-fikriy) dan hakikat Ramadhan. Ketiga, persiapan fisik (al-isti'dad al-jasadiy) dengan menjaga kesehatan dan membiasakan tubuh untuk berpuasa sunah banyak bertilawah, sholat malam. Keempat, persiapan logistik (al-ist'dad al-mally) yaitu menyiapkan bekal untuk amal sedekah. Dan kelima, mengkondisikan lingkungan. Semua ini hendaknya dipersiapkan sejak bulan-bulan sebelumnya (Rajab dan Sya'ban).
  • Malas menjalankan ibadah-ibadah sunah: malam-malam ramadhan tak berbeda dengan malam-malam selain Ramadhan. Salah satu ciri khas bulan Ramadhan adalah hidupnya 10 malam dengan ibadah. Kehilangan ciri khas ini berarti kehilangan momentum berharga.
  • Malas Membaca Al-Our'an: Target tilawah Al-Our'an (minimal 1xkhatam), tidak tercapal. Pembacaan Al-Ouran merupakan bentuk ibadah yang . sangat dianjurkan di bulan Ramadhan. Selain karena pahalanya berlipat (bulan syahrul quran), juga karena tersebut malam lailatul qadar yang memiliki wirid Al-qur'an yang lebih baik dari bulan-bulan selainnya. Tilawah Qur'an ini sebaiknya dengan tadabbur (memahami isi) agar mampu menyentuh jiwa.
  • Berpuasa tidak menghalangi seseorang dari penyimpangan mulut. Hakikat puasa tidak terletak pada menahan makanan dan minuman saja, tapi juga mengajak pelakunya untuk bisa menahan diri dari berbagai penyimpangan, salah satu yang dilakukan oleh mulut. Rasulullah Saw menyatakan bahwa dusta akan menjadikan puasa sia-sia. (HR. Bukhari).
  • Mudah mengumbar amarah. Ramadhan adalah bulan kekuatan. Nabi Saw bersabda, "Orang kuat bukanlah orang yang selalu menang ketika berkelahi. Tapi orang yang kuat adalah orang yang bisa menguasai diri ketika marah."
  • Puasa tak bisa menjadikan pelakunya berupaya memelihara mata dari melihat yang haram. Mata adalah penerima informasi paling efektif. Memori informasi yang tertangkap oleh mata, lebih sulit terhapus daripada informasi yang diperoleh oleh indra yang lainnya. Karenanya, memelihara mata menjadi sangat penting untuk membersihkan jiwa dan pikiran dari berbagai kotoran. Puasa yang tak menambah pelakunya lebih memelihara mata dari yang haram, menjadikan puasa itu nyaris tak memiliki pengaruh apapun dalam perbaikan diri.
  • Berbuka puasa menjadi saat melahap semua keinginan nafsunya yang tertahan sejak pagi hingga petang. Puasa, pada hakikatnya, adalah pendidikan bagi jiwa (tarbiyatun nafs) untuk mampu mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu. Hasil pendidikan itu, akan tercermin dalam. pribadi orang-orang yang lebih bisa bersabar menahan diri, tawakal, pasrah, tidak emosona tenang dalam menghadapi berbagai persoalan Puasa menjadi tak bernilai dan lemah dalam unsur pendidikannya ketika upaya menahan dan mengenda kan nafsu Itu hancur oleh pelampiasan nafsu 'balas dendam' yang dihempaskan saat berbuka.
  • Bulan Ramadhan tidak dioptimalkan untuk banyak mengeluarkan infaq dan shadaqah. Takut rugi jika mengeluarkan banyak infaq dan sedekah adalah tanda gagal Ramadhan. Sebab, salah satu sasaran utama puasa adalah membuat manusia mampu mengendalikan sifat rakus pada makan minum maupun pada harta benda.
  • Memutuskan tali silaturahim. Ketika menyambut datangnya Ramadhan, Rasulullah Saw bersabda,”Barangsiapa menyambung tali persaudaraan di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan dibulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.”
  • Menyia-nyiakan waktu. Termasuk gagal Ramadhan adalah lalai atas karunia waktu Gengan melakukan perbuatan sia-sia, kemaksiatan, dan hura-hura.
  • Salah dalam memaknai akhir Ramadhan. Khalifah Umar ibn Abdul Aziz memenntahkan seluruh rakyatnya supaya mengakhin puasa dengan memperbanyak Istighfar dan memberikan sedekah, karena istighfar dan sedekah dapat menambal 'yang robek robek' dari puasa.
  • Hari-hari menjelang idul fitri hanya sibuk dengan persiapan lahir. Sibuk mempersiapkan lebaran dengan berbagai kesenangan, tapi lupa bahwa 10 malam terakhir .merupakan saat saat genting yang menentukan nilai akhir kita di mata Allah Swt dalam bulan ramadhan
  • Idul Fitri dirayakan laksana hari "merdeka" dari penjara untuk melakukan berbagai penyimpangan. Makna Idul Fitri antara lain berarti, "kembali ke fitrah." Namun kebanyakan orang memandangnya sebagai hari dibebaskannya mereka. dari "penjara” Ramadhan. Akibatnya, hanya beberapa saat setelah Ramadhan pergi, ucapan dan tindakannya kembali jahiliyah.
  • Setelah ramadhan, nyaris tidak ada “ibadah yang ditindaklanjuti pada bulan-bulan selanjutnya. Orang akan gagal meraih keutamaan Ramadhan, saat ia tidak berupaya. menghidupkan. dan. melestarikan amal-amal ibadah yang pernah ia jalankan dalam di bulan Ramadhan.
  • Tinggi ketergantungannya pada makhluk, Hawa nafsu, dan syahwat merupakan pintu utama ketergantungan manusia pada sesama makhluk. Jika jiwa seseorang berhasil merdeka dari kedua mitra syetan itu setelah Ramadhan, maka yang mengendalikan dirinya adalah fikrah dan akhlak.
  • Malas membela dan menegakkan kebenaran. Ramadhan adalah.bulan dakwah dan jihad. Maka, di tengah gelombang kebathilan dan kemungkaran yang semakin merajalela, para jebolan akademi Ramadhan seharusnya semakin gigih membela dan menegakkan kebenaran,
  • Tidak bersemangat mensyiarkan Islam. Salah satu ciri utama alumni Ramadhan yang berhasil ialah ketagwaannya semakin kuat, Salah satu wujudnya adalah semangat mensyiarkan Islam,
Bantu Ringankan Biaya Operasi Santri Ponpes Tahfidzul Qur'an

Bantu Ringankan Biaya Operasi Santri Ponpes Tahfidzul Qur'an

Mari ulurkan tangan bantu ringankan biaya pengobatan Shofa. Berapapun donasinya, akan sangat bermanfaat untuk mereka

Detail Campaign
COPYRIGHT © 2021 Nusantara Peduli